Minggu, 20 Maret 2011 untuk ketiga kalinya MI Ma’arif Keji
Ungaran kedatangan volunteer. Ia bernama Marcello Viola, seorang berkebangsaan
Italia. Berbekal pengalaman luas dalam kegiatan lintas negara dibawanya ke
Indonesia untuk pertama kali. Segudang pengalaman telah ia lakukan, mulai dari
keterlibatannya dalam program pendidikan dan pendampingan anak-anak imigran (gypsy)
di Italia bekerjasama dengan OXFAM Italia (Global Citizen Education Project),
hingga menjadi volunteer di Ghana, Afrika. Dengan sangat antusias ia berbagi
pengalaman dengan murid-murid dan guru-guru untuk membantu upaya peningkatan
mutu pendidikan di MI Ma’arif Keji. Tentu bukan sesuatu yang baru bagi
MI Ma’arif Keji yang bervisi global dan berakhlak salafy karena sebelumnya volunteer
mancanegara lain juga telah belajar dan bertukar pengalaman, seperti dari
Inggris dan Swiss.

Di MI Keji, Marcello membantu program pengajaran seperti;
bahasa Inggris kelas 1-5, cerita anak, mengajar TK, kegiatan ekstrakurikuler
sepak bola, serta workshop fotography. Kendala bahasa sempat ia rasakan untuk
berkomunikasi dengan murid-murid, namun ini segera terselesaikan dengan bantuan
guru-guru di MI Keji yang setia mengajarkannya bahasa Indonesia. Dalam waktu 3
bulan ia sudah lancar berbahasa Indonesia. Di bulan Juni ini, Marcello memediasi
kegiatan tatap muka dan berkomunikasi secara langsung antara murid-murid MI
Keji dengan siswa SD di Roma, Italia. Melalui program skype (sambungan internasional
secara langsung lewat internet), murid MI Keji diajak untuk berbagi pengetahuan
dan pengalaman lintas negara, khususnya tentang Indonesia dan Italia. Ini
merupakan sesuatu yang baru, dan tentunya sangat bermanfaat bagi pengembangan
wawasan ilmu pengetahuan murid kedua negara.
Marcello tinggal di Indonesia selama 6 bulan (mulai 20 Maret – 10
September 2011). Volunteer yang genap berusia 29 tahun pada tanggal 6 Juni 2011
ini mengaku tertarik pada Indonesia didasari oleh rasa ingin tahu yang besar
terhadap kehidupan budaya, tradisi, agama serta alamnya yang sedemikian kaya, apalagi
aneka makanan khas yang tersedia. Hal ini tidak ia dapati di negerinya sendiri,
Italia. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Keji, ia merasakan
kehidupan kekeluargaan yang begitu ramah dan terbuka meski ia berasal dari
negeri asing. Ia juga menyukai musik asli Indonesia, dangdut. Bahkan ia sering pula
menghadiri aktifitas bersama warga sekitar Desa Keji seperti Istighosah. Bersama
warga, ia merasakan pengalaman spiritual yang begitu beda, hingga ia bisa
menikmati lantunan puji-pujian dalam Istighosah meski tak paham bahasanya. Selama
di Indonesia, ia tinggal di rumah Pak Supriyono kepala MI Ma’arif
Keji. Banyak pelajaran baginya yang bisa di peroleh. Ia berharap bisa tinggal
lama lagi sebagai volunteer di Indonesia. Dan di MI
Keji ini ia mulai belajar ‘menjadi’ Indonesia yang menurutnya sangat
mengesankan. Selamat jalan Marcello kami akan selalu mengenang dan merindukanmu[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar